Yulia Kezia Maharani

Sudah sepuluh tahun berlalu, Eriana dan keluarganya pindah ke kota karena mengikuti ayahnya yang bekerja. Sewaktu itu, ia hanyalah seorang anak kecil periang dan sangat suka bercanda gurau dengan teman layaknya anak kecil biasa. Namun entah mengapa, semenjak pindah ke kota, ia bertumbuh menjadi pribadi yang dingin dan jarang tersenyum. Ditambah lagi, perceraian kedua orang tuanya membuat Eriana lebih betah menyendiri dan tidak ingin berinteraksi kepada siapapun, kecuali ibunya tercinta.

Tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-17, ia tidak merasa sedang merayakan apa pun. Hari-hari berjalan seperti biasa. Bangun tidur, mandi, sarapan, lalu pergi ke sekolah. Sudah biasa bagi Eriana menjadi invisible di antara banyak orang. Hingga saat pulang sekolah, ia begitu heran melihat barang-barang di rumahnya sudah dikeluarkan dan diangkut ke atas mobil pick-up.

“Ibuu.. Bu.. mau diapakan barang-barang itu? Kenapa dikeluarkan semua?” ucap Eriana seraya berjalan masuk ke dalam rumah mencari ibunya ke seluruh ruangan.

“Sayang, hari ini kita akan pindah ke rumah kita yang dulu. Gapapakan?” jawab ibu yang muncul dari kamar sambil membopong kardus berisi bingkai-bingkai foto.

Anehnya, ketika Eriana tahu dia akan pindah ke rumah lamanya, ia tidak memberontak. Tidak seperti ketika ayahnya meminta ia untuk ikut pergi dengannya. Hal ini ternyata sudah sangat lama dinantikan olehnya. Matanya terlihat berbinar-binar dan bergegas membantu ibunya mengemas barang-barang.

Sudah lama sekali rasanya ia tidak menginjakkan kaki di desa itu lagi. Ia bahkan mulai kehilangan potongan-potongan memori kehidupannya di desa dulu. Namun yang jelas, ingatannya ketika pindah tanpa pamit kepada seorang sahabat masih sangat jelas di pikirannya. Mungkin ingatan itu masih bertahan karena rasa bersalahnya sendiri. Ia pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan apapun. Mau menyesal? Waktu sudah sangat jauh meninggalkan kejadian tersebut. Tidak ada yang bisa dilakukan selain menyimpan rasa bersalah itu sendiri.

Walaupun Eriana kecil tidak begitu tahu tentang perasaan dan soal hati, tetapi rasa kehilangan selalu mengikuti nya sepanjang waktu. “Yash! Here we go, Eri!” bisik Eriana menyemangati dirinya dalam hati.

Mereka pun berangkat pergi meninggalkan rumah di kota. Meninggalkan sisa-sisa kenangan saat ia masih memiliki keluarga yang utuh. Menutup semua cerita sedih dan mulai menjemput secercah harapan untuk sedikit merasa bahagia. Akankah begitu?

Tepat pukul sepuluh malam hari, Eriana dan ibunya sampai di rumah lama. Eri disambut oleh sang nenek yang sudah dari lama menunggu kedatangan mereka. Tak lama kemudian, nenek juga menyuguhkan teh untuk menghangatkan perut. Ya, mereka dulu tinggal berlima. Ayah, Ibu, Eriana, Nenek, dan Almarhum Kakek. Sekarang, tersisa tiga orang.

“Masih sama hangatnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kamu bisa Eri!” hiburnya dalam hati.

Eriana yang terlihat lelah karena harus menempuh perjalanan selama delapan jam itu terbaring lemas di kamar lamanya. Kamar yang masih tertata rapi dengan boneka dan mainan rumah-rumahan. Ia tidur memeluk guling dan kemudian air mata mengalir di pelupuk matanya. Rindu. Rasa itu melekat begitu saja ketika ia berbaring di ranjang lamanya lalu menemaninya hingga ia benar-benar terlarut dalam tidurnya.

Matahari mengintip dari balik tirai jendela, ayam jago mengeluarkan kokokannya yang gagah. Burung berkicau di mana-mana. Suasana desa sangat damai membuat pagi hari Eriana menjadi sedikit lebih berwarna. Berbanding terbalik dengan kota yang penuh hiruk pikuk dan klakson sana sini. Bukannya berwarna, tapi malah bikin sakit kepala. Eriana berjalan keluar dari kamar, menyapu pandangannya ke seluruh sudut ruangan, mencoba menarik kembali ingatan masa kecilnya dulu. Ibu yang memanggilnya dari dapur membuyarkan segala pikirannya tentang masa kecil. Sekarang yang ada di otaknya hanya satu. Makan. Ia sangat lapar karena tidak ikut makan malam akibat tepar tidak terbiasa menempuh perjalanan jauh.

Selepas sarapan, Eriana berjalan-jalan di sekitaran rumah. Ia menghampiri sebuah ayunan kayu yang menggantung di sebuah pohon. Pohon itu terlihat tua. Ayunannya juga mulai lapuk. Eriana menatap ayunan tersebut dengan tatapan kosong. Menyunggingkan senyum, lalu bergerak menghampiri ayunan dan mulai duduk di atasnya. Sambil berayun-ayun, ia menoleh ke sekeliling, menikmati langit yang biru, dan angin sepoi-sepoi yang menyejukkan hati.

Tiba-tiba ia berhenti mengayunkan tubuhnya. Ia melihat sesuatu dari dalam tanah. Seperti sebuah botol yang terkubur. Karena tidak begitu jelas dan rasa penasaran yang mendominasi, Eriana pun menghampiri sesuatu yang terkubur itu. Mengernyitkan dahi, lalu mengoreknya perlahan dengan batu yang berserak di tanah.

Ternyata benar, sesuatu yang terkubur itu adalah sebuah botol. Botol yang berisi kertas-kertas dan ditutup dengan gabus yang mulai membusuk. Mungkin karena gabusnya sendiri timbul ke atas tanah dan terpapar matahari lalu tersiram air hujan bertahun-tahun lamanya.

Sebenarnya rasa penasaran Eriana sudah cukup ketika mengetahui sesuatu itu adalah botol yang terkubur. Namun entah mengapa, pertanyaan selanjutnya muncul kembali di benaknya. “Kertas apakah yang di dalam botol ini?” Lalu kemudian membuka botol tanpa berpikir ulang.

Kertas pertama tertulis :

“Hari ini aku sangat senang. Aku dapat teman baru, wajahnya lucu karena suka tertawa. Namanya Eri. Dia menolongku ketika aku terjatuh dari ayunan di bawah pohon ini”.

Sontak Eriana terkejut ketika membaca kalimat di kertas itu.

“Siapa?” Tanyanya dalam hati.

Ia pun membuka kertas kedua untuk menemukan petunjuk baru.

“Eri yang tertawa sangat manis. Eri yang menangis sangat imut. Eri yang marah sangat lucu. Aku suka Eri yang selalu melindungi ku dari anak-anak yang selalu menggangguku”

“Pfftttt..” Eriana menahan tawa gelinya.

“Siapa sih yang menulis begini? Ga jelas banget!” Cibir Eriana dengan muka merah merona.

Tidak kapok, Eriana tetap membuka potongan kertas dari dalam botol tersebut.

“Eri sekarang sudah tidak ada, Eri pergi dan aku sendiri. Aku senang bisa melindunginya. Aku harus bisa sekuat Eri. Kalau aku bertemu Eri lagi, aku harus akan terus melindunginya. Kapan kita bertemu lagi? Aku tidak tahu Eri sekarang sudah di mana..”.

Eriana tertegun. Sudah mulai mengenali penulis surat-surat dari botol ini. Ingatannya yang kabur sudah mulai terkumpul. Ia membaca potongan demi potongan surat tersebut dan menautkan semua hal yang terlintas di kepalanya. Lalu yang muncul adalah sebuah nama. Nama dari seorang laki-laki yang cengeng dan selalu takut. Sahabat yang ia tinggalkan di saat masih terbaring lemah di rumah sakit setelah mengorbankan dirinya tertabrak mobil angkot karena melindungi dirinya yang berlari ke tengah jalan saat bermain dulu.  Lalu melupakan sahabat yang sangat berjasa itu. Orang itu bernama Carel.

 “Eriana??”

Tidak beberapa lama seseorang memanggil namanya dari kejauhan. Ya. Orang itu tepat berhadapan dengan dirinya sekarang. “Aku menulis semua di dalam botol itu. Time capsule-ku. Supaya aku benar-benar tidak melupakanmu,” jelas orang itu dan perlahan berjalan menghampiri Eriana yang masih terkejut akan kehadirannya. Lalu keduanya tertawa bersama.

Orang yang menjadi alasan mengapa ia harus kembali ke desa saat ini. Dia suka sekali bercerita hal-hal yang lucu kepada Eriana sehingga Eri menjadi anak yang selalu tertawa dan ceria. Memori itu terisi kembali. Senang bertemu dengannya kembali. Akankah potongan-potongan memori baru tercipta kembali? Akankah senyuman manisnya dapat terlengkung kembali?

Leave a comment