Peran Platform dan Media Sosial dalam Mengatasi Infodemi

Sumber Foto: Youtube Aji Indonesia

Nia Nuryanti Barus

Pijar, Medan. Hampir setahun sejak Maret 2020, Indonesia masih berperang melawan Covid-19. Hal ini tentu telah menyebabkan banyaknya informasi atau berita yang menyebar secara terus menerus di masyarakat mengenai virus ini. Penyebaran informasi secara terus menerus ini disebut dengan istilah infodemi. Infodemi adalah suatu fenomena membludaknya informasi-informasi mengenai pandemi Covid-19, di mana terdapat informasi-informasi berupa fakta, namun ada juga yang kebenarannya masih diragukan.

Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) Indonesia akhirnya melakukan webinar dengan tema “Berhasilkah Media dan Platform Digital Mengatasi Infodemi?” melalui platform Zoom meeting dan Youtube (8/2). Webinar ini turut mengundang Alice Budisatrijo selaku manajer kebijakan misinformasi Facebook, Wahyu Dhyat ka selaku tempo/inisiator cek fakta.com, serta Yovantara Arief sebagai direktur eksekutif remotivi.

Yovantara Arief menjelaskan bahwa secara umum di jagat internet saat ini, jurnalisme bukanlah menjadi rujukan informasi utama lagi bagi masyarakat. “Hal ini merujuk kepada survei literasi digital aktivitas berinternet kominfo 2020, dimana hanya 2,2% masyarakat yang sering membaca berita online. Sedangkan 34,3% masyarakat lebih banyak menggunakan internet untuk berkomunikasi melalui media sosial seperti Whatsapp, Facebook, Instagram, dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Webinar Session oleh para narasumber (8/2).
Sumber Foto: Youtube Aji Indonesia

Hal ini tentunya menyebabkan masyarakat lebih cepat mendapatkan informasi ataupun berita melalui media sosial dibandingkan berita online, sehingga kebenaran serta fakta akan informasi tersebut masih diragukan. Meskipun begitu, beberapa media sosial seperti Facebook ternyata memiliki cara untuk menangkal penyebaran berita hoax mengenai Covid-19 yaitu dengan cara melakukan konsultasi bersama WHO.

Hasil konsultasi tersebut menghasilkan feedback bahwa misinformasi yang berbahaya yaitu ketika seseorang percaya bahwa berita yang tersebar tersebut benar. Sehingga mereka tidak menjaga dirinya dengan benar, tidak melakukan pengobatan dengan benar, meminum obat yang berbahaya serta tidak mengikuti aturan dari tenaga kesehatan. Oleh karena itu, Alice Budisatrijo selaku manajer kebijakan misinformasi Facebook mengatakan bahwa berita hoax yang tersebar di Facebook mengenai Covid-19 mulai januari 2020 tahun lalu sudah dihapus. “Mulai januari 2020, segala misinformasi tentang Covid-19 termasuk obat, pencegahan, bahaya Covid-19 ataupun anjuran agar orang orang tidak mengikuti instruksi dari otoritas kesehatan, itu akan langsung kami hapus,” jelasnya.

“Namun, tidak semua informasi mengenai Covid-19 dihapus dari Facebook. Untuk beberapa informasi mengenai Covid-19 yang masih tersedia di Facebook berarti hal tersebut telah melalui pengecekan oleh tim pemeriksa fakta pihak ketiga kami yaitu tempo, kompas, liputan6, tirto, dan mafindo,” tambahnya.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *