Menjadi Ronggeng Dukuh Paruk Bukanlah Pilihan, Melainkan Takdir

Fotografer: Laura Nadapdap

Laura Nadapdap / Talitha Nabilah Ritonga

Medan, Pijar. Mendengar kata “ronggeng”, yang terlintas pertama kali adalah penari dalam seni tradisi Jawa berparas elok dan menawan. Alunan calung yang mengiringi lenggak-lenggok si penari membuat suasana magis terasa dalam ritual itu. Kesakralannya meyakinkan kita bahwa menjadi ronggeng bukanlah hal mudah.

Melalui buku “Ronggeng Dukuh Paruk”, Ahmad Tohari mengungkapkan kehidupan seorang ronggeng di sebuah desa terpencil bernama Dukuh Paruk. Tiga bagian dalam satu buku cukup menjelaskan suka duka seorang ronggeng Dukuh Paruk tersebut. Diawali Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala sebagai judul terakhir.

Ronggeng merupakan jati diri desa Dukuh Paruk. Tanpanya, desa ini hambar dan tak memiliki lambang identitas. Peristiwa ini telah dialami Dukuh Paruk selama belasan tahun. Belum ada yang “kerasukan” jiwa seorang ronggeng dari Ki Secamenggala, leluhur yang sangat dihormati di desa itu.

Hingga suatu hari, Dukuh Paruk mulai memancarkan seberkas cahaya. Srintil, gadis belia berusia 11 tahun kedapatan menggerakkan tubuhnya dengan piawai layaknya seorang ronggeng di hadapan tiga temannya.

Menari seperti ronggeng di Dukuh Paruk tidak dapat diajarkan kepada seseorang, bahkan sejak usia muda sekalipun. Hanya yang kerasukan indang Ki Secamenggala lah yang dapat melakoninya. Mengingat hal itu, Sakarya, kakek Srintil tersenyum puas sebab dari banyaknya penduduk Dukuh Paruk cucunya lah yang mendapat wangsit untuk meneruskan ronggeng di desa itu.

Untuk sah menjadi ronggeng, Srintil harus melewati beberapa tahapan. Kartareja, seorang dukun ronggeng yang telah 11 tahun menantikan anak asuh, dengan senang hati membantu Srintil menjalani setiap persyaratannya.

Bukak klambu menjadi ritual terakhir yang dijalani Srintil setelah melakukan dua ritual lainnya terlebih dahulu. Ia harus menyerahkan keperawanannya kepada lelaki yang mampu membayarnya dengan harga termahal.

Rasus, lelaki Dukuh Paruk yang telah lama mengenal Srintil, menaruh hati pada bakal ronggeng tersebut. Remaja yang tidak mengenal orang yang melahirkannya itu telah menetapkan citra seorang Emak ada pada diri Srintil.

Seketika gambaran Emak pada diri Srintil rusak. Peristiwa bukak klambu yang membuat Rasus menerima bahwa Srintil tidak tepat menjadi bayangan dari orang yang begitu disayanginya. Keperawanan Srintil yang dengan mudah diperjual-belikan menyadarkannya jika Srintil adalah milik semua orang, milik Dukuh Paruk. Ia tak dapat membeli “jasa” sang ronggeng tersebut.

Kecewa dengan keadaan, Rasus memilih untuk meninggalkan Dukuh Paruk menuju Dawuan. Ia ingin melupakan apa yang terjadi di desa kelahirannya itu. Tentang ia dan kisahnya dengan ronggeng Dukuh Paruk dan citra Emak yang tergambar dalam dirinya. Hingga keberuntungan menghampirinya. Ia diangkat menjadi seorang tentara dalam satuan tim Sersan Slamet setelah berhasil membunuh perampok yang ada di Dukuh Paruk.

Srintil yang merasa hampa kehilangan Rasus mulai tidak bergairah menjadi ronggeng. Ronggeng kebanggaan desa itu jenuh. Ia ingin hidup seperti wanita lainnya, tanpa kewajiban untuk melayani banyak lelaki memenuhi kebutuhan seksualitasnya. Srintil tetaplah wanita yang menginginkan seorang anak dari lelaki yang dicintainya, Rasus.

Alur cerita buku “Ronggeng Dukuh Paruk” yang mengandung cerita keadaan Jawa setelah pemberontakan sangat mencuri perhatian masyarakat. Tak heran jika beberapa sutradara mengadaptasinya menjadi film seperti Darah dan Mahkota Ronggeng dan Sang Penari. Tak hanya secara nasional, novel ini turut diminati secara global. Hal itu membuat novel bernuansa tahun 1965 tersebut telah diterbitkan dalam lima bahasa, yaitu bahasa Indonesia, Jepang, Jerman, Belanda, dan Inggris.

Tahun 1980-an, karya-karya yang mengandung kritik terhadap kondisi politik di Indonesia kerap dibungkam. Namun seolah tak menghiraukannya, Ahmad Tohari dengan beraninya melahirkan suatu karya tentang kondisi politik pada saat itu. “Kalau para senior enggak ada yang nulis ya saya yang nulis. Saya sadar betul bahayanya dan memang saya dipanggil tentara kemudian,” ungkapnya, dilansir dari detik.com.

Ahmad Tohari sukses menyajikan lika-liku seorang gadis yang tidak memilih sebagai ronggeng. Srintil lahir dan ditakdirkan menjadi seorang ronggeng Dukuh Paruk. Betapa pun banyak orang yang menginginkan posisi tersebut, kekesalan dialami Srintil yang membenci kehidupan penari ronggeng.

“Mengapa harus aku yang mengalaminya?”

 

(Editor : Lolita Wardah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *