Chairunnisa Asriani Lubis / Jonathan Alexander

Pijar, Medan. Band indie dengan aliran musik folk-nya memang kerap kali memberikan sensasi berbeda ketika mendengarkan lagu-lagunya. Lagu yang berjudul “Kukira Kau Rumah” adalah salah satunya. Diciptakan dan dibawakan dengan merdu oleh band indie, Amigdala.

Amigdala merupakan band indie asal Bandung yang dibentuk pada tahun 2016 lalu. Beranggotakan Andari sebagai vokalis, Isa sebagai gitaris dan vokal, Iqbal sebagai pemain bass dan Junet sebagai pemain drum. Memiliki ciri khas musik yang penuh emosional diiringi dengan keindahan menjadi keunikan sendiri bagi Amigdala. Hal itu sesuai dengan makna kata Amigdala yang secara harfiah berarti salah satu bagian otak yang berfungsi meregulasi emosi marah, senang, takut, cemas dan emosi lainnya.

Amigdala merilis lagu “Kukira Kau Rumah” pada 1 Oktober 2017 lalu lewat kanal YouTube Amigdala. Hingga saat ini, lagu tersebut sudah didengar lebih dari 19 juta kali. Wajar saja, karena dari intro awalnya sudah membuat pendengarnya diam dan samar-samar menangkap petikan gitar syahdu akustik sang gitaris.

Kata “rumah” dalam lagu tersebut bukan bermakna rumah tempat kita tinggal. Makna lebih dalamnya yaitu tempat yang menjadi seseorang merasakan arti “pulang” yang seesungguhnya. Tempat di mana kita bisa berbagi kebahagiaan dan keluh kesah yang dirasakan. Maka dari itu, patah hati yang mendalam ketika tidak ada lagi tempat berbagi kisah dalam menjalani sebuah hubungan sangat bisa dirasakan dalam lagu ini.

“Lagu ‘Kukira Kau Rumah’ ini emang diciptakan dari pengalaman seseorang. Sebenarnya lagu kita itu berasal dari puisi. Kebetulan aku suka banget buat puisi dan ada beberapa yang dipilih jadi lagu,” ungkap Andari di salah satu showcase Amigdala.

“Kukira Kau Rumah” memang memiliki lirik layaknya sebuah puisi. Setiap potongan lirik dalam lagu ini mengandung makna yang sangat dalam, sehingga kita benar-benar bisa membayangkan dan merasakan jadi seseorang yang berada di posisi tersebut.

Kau datang tatkala sinar senjaku telah redup

Dan pamit ketika purnamaku penuh seutuhnya

Kau yang singgah tapi tak sungguh

Kukira kau rumah

Nyatanya kau cuma aku sewa

Dari tubuh seorang perempuan yang memintamu untuk pulang

Kau bukan rumah

Di awal lirik menceritakan tentang seseorang yang datang ketika diri sedang rapuh dan pergi ketika sedang sayang-sayangnya. Sinar senja bagaikan sebuah harapan, ketika redup berarti harapan itu sedang pupus. Seperti halnya putus harapan saat dikecewakan oleh orang yang disayang. Lalu dia datang menghibur dan membuat hati menjadi bangkit kembali. Namun saat semuanya sudah terjadi, ia malah pamit pergi.

Pada lirik kau yang singgah tapi tak sungguh jelas mengungkapkan rasa kekecewaan. Bermakna bahwa kau (dia) yang datang sudah merebut hati tetapi malah tidak serius dalam menjalani hubungan.

Kekecewaan lebih dalam lagi dapat dirasakan pada empat baris lirik terakhir. Di mana saat seseorang sudah mampu membuat nyaman, menganggap bahwa dia adalah tempat terbaik untuk mencurahkan isi hati, teman bercanda, teman sedih sehingga menumbuhkan rasa cinta, namun ternyata dia hanya seseorang yang kita pinjam dari milik orang lain. Ditutup dengan lirik kau bukan rumah yang bermakna bahwa dia bukanlah tempat terbaik itu. Dia bukanlah orang yang membuat arti “pulang” yang sesungguhnya.

Melalui lagu ini kita diajarkan untuk tidak menaruh harapan lebih kepada seseorang sekalipun orang itu datang menghibur kesedihan kita. Karena terkadang ketika kita berharap lebih terhadapnya justru bisa menjadi hal yang menyakitkan sendiri untuk kita. Pada akhirnya, rasa kecewalah yang justru hadir.

(Editor: Widya Tri Utami)

Leave a comment