llustrator: Azela Nurul Syaf

Pasir Merah

Elsa Karenina Sipayung

Nietzsche pernah berkata, jika kau lama melihat ke kehampaan, kehampaan akan melihatmu. Awalnya Alaksa tidak mengerti arti dari kata itu. Hingga suatu saat, dia merasakannya sendiri.

Alaksa berasal dari keluarga yang memiliki keadaan ekonomi menengah ke atas. Dia juga berasal dari keluarga yang harmonis dan menjunjung tinggi pendidikan. Kehidupannya sempurna, dan selalu berhasil membuat orang lain merasa iri. Namun, kesempurnaan itu pula yang telah membuat Alaksa menjadi seorang pria yang kejam. Dia selalu memeriksa kekurangan yang dia punya, dan tak pernah puas akan apa yang sudah dimilikinya. Dia selalu berusaha mencari kesalahan orang lain. Dia tidak ingin pekerjaannya tidak mulus.

“A..aku mohon, lepaskan aku,” pinta seorang wanita berusia kira-kira 30 hingga 40 tahun. Wanita itu bersujud di hadapan Alaksa dengan keadaan tubuh yang sudah tidak lengkap lagi. Tiga jari di tangan kirinya sudah tergeletak di lantai. Darahnya bercucuran diikuti air mata yang tidak berhenti sejak setengah jam yang lalu. Tubuhnya tidak memiliki tenaga lagi hanya untuk sekadar memberi perlawanan kepada Alaksa.

“Nyonya Sarah, aku akan melepaskanmu hanya jika kau mau mengakui kesalahanmu,” ucap Alaksa untuk yang kesekian kalinya dalam hari ini. Entah apa yang dilakukan wanita bernama Sarah itu hingga pria yang berasal dari keluarga sempurna ini merasa ingin menyiksanya.

“..Aku tidak tahu kesalahanku. Tapi, aku sangat minta maaf, Al,” suara Sarah semakin melemah, darahnya keluar cukup banyak. Sangat tidak mungkin dia bisa selamat.

“Hah!” dengan kasar, Alaksa menghembuskan napasnya.

“Dasar wanita tua bodoh. Kau sudah berani menggoda Ayahku! Dan kau pantas untuk dihukum!” teriaknya dengan kesal. Lalu dengan kesadaran penuh, Alaksa mengayunkan kayu yang dipenuhi oleh paku ke tubuh Sarah. Alaksa menikmati setiap detik ketika Sarah menuju ajalnya. Dengan seringai yang mengerikan, dia mengambil kamera dan mengabadikan momen itu.

Mendapati Sarah sudah tewas, dia tertawa dengan sangat kuat. “Memang sudah seharusnya, orang jahat seperti kalian dihukum mati,” ujarnya dengan nada puas.

Alaksa selalu percaya, dia dilahirkan untuk menjadi seorang yang adil. Tak heran dia berkuliah di jurusan hokum. Dan saat ini, dia telah menjadi hakim. Dia selalu menganggap dirinya adalah hakim yang adil.

Dengan senyum kemenangan, Alaksa mengemas tubuh Sarah ke dalam sebuah koper besar. Dengan segera, dia membawa koper itu bersamanya ke sebuah desa terpencil dan membuangnya di tengah laut.

Siklus pembunuhan yang dilakukan Alaksa selalu seperti itu. Dia akan menyekap orang-orang yang dianggap jahat dan bersalah. Lalu memberi mereka makan selama sebulan, dan merawat mereka agar saat masa eksekusi nanti, agar mereka mengakhiri hidup dalam keadaan mulus dan indah.

Selama tiga puluh tahun hidupnya, Alaksa tidak pernah sekalipun ketahuan melakukan pembunuhan. Dia selalu berhasil menghindari dugaan karena karakternya yang diketahui umum hanyalah seorang yang hangat dan adil. Tak sedikit pula orang yang mengakui ketampanannya.

Alaksa percaya, di dunia yang kejam ini, kamu akan dimaafkan jika kau memiliki penampilan yang menarik dan indah.

Untuk pertama kalinya, dia tertangkap basah oleh seorang gadis berusia antara 20 hingga 30 tahun. Gadis itu menatap Alaksa yang sedang membuang koper berisikan tubuh Sarah ke laut. Dalam diam Alaksa mengumpat, dia baru sadar lengan Sarah tidak masuk ke dalam koper dengan sempurna.

Gadis itu membelalak ketika melihat lengan penuh darah yang bergelantung dari dalam koper. Dengan tubuh bergetar, gadis itu mundur beberapa langkah.

“Hey, apa yang kau lihat?” tanya Alaksa dengan suara yang kuat mengingat suara angin laut yang kencang.

Tanpa sadar, air mata mengalir di wajah gadis cantik itu. Dia semakin berjalan mundur, tanpa memperhatikan jalannya.

“Akh!” pekikan gadis itu kala tersandung batu berhasil mengundang Alaksa untuk mendekat. Ini adalah kesempatan emas, Alaksa langsung mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya ke mobilnya.

“LEPASKAN AKU! LEPASKAN AKU!” gadis itu meronta-ronta di atas tubuh Alaksa. Berusaha sekuat mungkin agar lepas dari pria menakutkan ini.

“Diamlah,” ujar Alaksa dengan datar

“TOLONG AK-“ belum sempat melanjutkan ucapannya, Alaksa sudah membanting gadis itu ke sebuah batu besar.

“Bukankah aku sudah memintamu untuk diam?” tanya Alaksa kepada tubuh gadis yang sepertinya sudah pingsan.

Perlahan, Alaksa mengeluarkan peralatannya dari mobilnya. Entah kebetulan atau bagaimana, keadaan disana sedang sepi.

“Nah, sebelum kau mati, kau harus dirawat,” ucapnya sambil memotong kuku gadis itu dengan lembut. Dia juga memotong rambut gadis itu, membuang rambut yang sudah bercabang. Dia juga memoleskan beberapa riasan di wajah cantic gadis itu.

Melihat hasil karyanya yang indah, Alaksa tersenyum puas dan mengeluarkan kameranya. Dia mengabadikan detik-detik kesadaran gadis itu dari pingsannya.

Senyum merekah ketika Alaksa mendapati gadis itu terbangun. “Kau sudah bangun?” tanyanya sedikit ramah.

Gadis itu bergerak mundur, tubuhnya bergetar. “Mau apa kau?” suaranya bergetar. Alaksa tersenyum ketika mendengar suara ketakutan itu.

“Siapa namamu?” tanya Alaksa dengan suara dinginnya. Namun gadis itu tidak menjawabnya. Hingga kira-kira setengah jam, Alaksa menanyakan hal yang sama dan gadis itu juga memutuskan untuk melakukan hal yang sama. Tetap diam.

“Baiklah. Kalau itu mau mu,” dengan tenang Alaksa mengeluarkan dompet gadis itu dari saku miliknya. Dia menunjukkan kartu identitas gadis itu di hadapan wajahnya sendiri.

“Salam kenal, Yuna. Terimakasih sudah memergoki kegiatan berhargaku. Tapi, aku rasa ini sudah saatnya kau menyimpan memori ini hanya untuk dirimu sendiri,” wajah Alaksa yang datar diikuti nada suara yang dingin berhasil mengintimidasi Yuna.

Bola mata Yuna bergerak gelisah. Dia tak berani menatap mata tajam milik Alaksa. “Sekarang, aku akan melanjutkan permainanku,” lanjut Alaksa sambil mengeluarkan gunting.

Dengan paksa, Alaksa menghadapkan wajah Yuna kepadanya. Dan mulai memberikan sayatan di wajah cantik gadis itu. Dia merias Yuna dengan gunting itu.

Darah Yuna mulai bercucuran dari wajah diikuti aliran air mata yang kian deras. Dengan bola mata yang membesar, Alaksa mulai memotong telinga Yuna dan melanjutkan hingga leher.

“Hiks, tolong maafkan aku,” Yuna memohon sambil terisak. Namun Alaksa tidak mengindahinya. Pria itu semakin larut melakukan kesenangannya.

“Apa aku melakukan kesalahan?” tanya Yuna dengan suaraa bergetar. Pertanyaan sederhana, namun berhasil menghentikan kegiatan pria itu.

“Aku hanya tidak sengaja melihatmu membuang koper berisi mayat itu. Aku tidak melakukan hal lain, lalu apa aku salah?” tanyanya.

Alaksa tersentak. Benar juga. Seketika Alaksa merasa dia gagal menjadi seorang yang adil. Dengan tatapan gelisah, Alaksa memandang mata indah milik Yuna.

“Aku bersalah?” tanya Alaksa dengan wajah datar yang menunjukkan betapa kagetnya dia. Yuna melihat Alaksa layaknya seseorang yang gila dan baru menyadari dirinya gila.

“J..jelas kau salah,” jawabnya ragu.

“Tidak, tidak mungkin aku salah!” teriak Alaksa sambil memukul-mukul kepalanya. Sesekali juga dia menjambak rambutnya hinga beberapa helai rontok. Yuna memekik kaget melihat bagaimana Alaksa menyiksa dirinya sendiri.

Darah Alaksa mulai menetes. Yuna dengan perlahan mendekat kepadanya dan mendapati pria itu sudah menusukkan gunting berkali-kali ke dadanya.

“Astaga! Hei, kau sedang apa?!” pekik Yuna dan berusaha melepas gunting yang menancap di dada Alaksa itu.

“Kau pasti berbohong! Aku tidak mungkin salah?! KAU DENGAR ITU SIALAN?” Alaksa membentak Yuna.

Tanpa kesadaran penuh, Yuna menampar Alaksa, memancing kemarahan Alaksa. Tatapan sarat kemarahan ditujukan Alaksa kepada Yuna. “Dasar sampah!” geram Alaksa.

Dengan kuat Alaksa menusukkan gunting itu di ulu hati Yuna kemudian menyaksikan bagaimana gadis itu menjemput ajalnya.

Alaksa tertawa dengan pelan diikuti seringaian yang mengerikan. Pria itu merebahkan dirinya ketika mendapati Yuna sudah tewas.

Setelah merasa puas, Alaksa bangkit dan mulai melangkah menuju mobilnya. Berharap orang banyak tidak segera datang. Namun sepertinya Alaksa tidak dapat pergi secepat itu.

Saat ini di hadapannya Yuna berdiri dengan lemah. Dia belum mati sepenuhnya. Tusukan gunting itu tidak terlalu dalam, dan tidak berhasil mengenai jantungnya.

“Jangan harap kau bisa kembali, brengsek!” teriak Yuna sambil melempar gunting yang tadi tertancap di tubuhnya ke arah mata Alaksa.

Tepat sasaran! Gunting itu mengenai mata kanan Alaksa. Dengan gerakan lambat namun pasti, Yuna menimpukkan batu besar ke kepala Alaksa hingga pria itu tergeletak tak berdaya.

Yuna memaksa tubuhnya yang sudah lemah itu untuk mendekati Alaksa, memeriksa detak jantungnya. Alaksa sudah mati, dengan darah yang menyebar di atas pasir putih.

Yuna yang merasa semakin lemah dan lelah memutuskan untuk berbaring di sebelah Alaska berharap warga setempat segera menemukan mereka.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *