Ngatemi, Potret Kerja Keras Seorang Ibu

Hits: 6

 


Pijar, Medan. Angin malam semakin menggigit. Udara malam itu memang kurang bersahabat. Namun, Ngatemi masih terjaga walau pegal dan nyeri di badan membebaninya. Bagaimana tidak, ibu berusia 52 tahun ini harus tetap waspada agar sepeda motor dan mobil yang diparkir senantiasa aman. Ya, profesi Ngatemi adalah juru parkir di malam hari di depan Karaoke NAV di Jalan Raden Saleh.

Juru parkir di Medan lazimnya profesi yang dilakoni seorang pria muda dan berwajah garang. Tapi bagi Ngatemi yang berasal dari Belawan ini usia yang sudah tidak muda lagi bukanlah penghalang baginya untuk mencari nafkah bagi keluarga tercinta di rumah.

Ibu Ngatemi memiliki delapan orang anak. Hampir semuanya sudah bekerja dan berumah tangga. Seorang anaknya masih tinggal bersama di rumahnya. Ali Nazar Sihombing (65) sang suami berprofesi sebagai pemborong aspal. Sebagai pemborong penghasilan Ali Nazar tidak menentu. Jika sedang ada proyek, Ali ini bisa mendapatkan uang yang cukup untuk biaya makan sehari-hari. Namun, jika sedang tidak ada proyek, otomatis penghasilan yang didapatkan menjadi nihil. Pada saat seperti itulah, penghasilan dari Ibu Ngatemi menjadi satu-satunya sumber rejeki yang bisa menghidupi keluarganya.

Ngatemi rela bekerja setiap hari selama seminggu mulai dari jam lima sore sampai jam dua pagi. Bahkan jika di akhir pekan, Ngatemi bisa bekerja sampai jam tiga pagi. Sebelumnya pada siang hari Ngatemi berperan sebagai ibu rumah tangga. Seperti ibu rumah tangga pada lazimnya, Ngatemi memasak, mencuci, termasuk mengantarkan cucunya ke sekolah. Itulah ritme hidup Ngatemi sehari-hari. Memang terlihat menyiksa, apalagi bagi seorang perempuan paruh paya dengan tubuh yang tidak sekuat masa muda. Namun, Ngatemi sadar sepenuhnya kalau ia mudah menyerah, maka keluarganya bisa kelaparan.

Untungnya, dari pengorbanan sebesar itu, Ngatemi mendapat penghasilan yang sepadan. Boleh percaya atau tidak, Ngatemi mengakui ia mendapatkan penghasilan kotor sekitar 1-1,5 juta per hari. Setelah dipotong untuk setoran serta keperluan lainnya, Ibu yang ramah ini dapat mengisi koceknya sekitar 300 ribu rupiah per hari! Dengan duit sebesar itu Ngatemi sanggup memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sebelum menjadi juru parkir, Ngatemi pernah berjualan makanan dan jus buah di sekitar Merdeka Walk. Namun, karena terlalu sering digusur Satpol Pamong Praja, ia memutuskan berhenti berjualan dan banting setir menjadi juru parkir.  Pada awalnya, lahan parkir tersebut dikelola bersama dengan saudara Ngatemi sendiri. Tapi, karena sering cekcok, khususnya dalam membagi penghasilan, akhirnya saudara Ibu Ngatemi memilih menyingkir.

Ngatemi memiliki kesan khusus terhadap pemerintah tatkala usahanya dengan mudah digusur. Karena itu pula ia berharap agar pemerintah memperhatikan orang-orang seperti dirinya. “Jangan menindas kaum yang lemah. Pemerintah tidak perlu mengeluarkan janji yang muluk-muluk. Kami sebagai orang yang termasuk golongan miskin hanya minta sedikit perhatian pemerintah. Tidak lebih,” ujar Ibu Ngatemi tegas.

Kisah Ngatemi bak sebuah lukisan tentang kekuatan semangat seorang anak manusia di tengah kefanaan hidup. Ngatemi rela berkorban dan bekerja keras demi keluarga walau sudah memasuki usia senja. Dengan segala keterbatasan dan kesederhanaannya, semangat Ngatemi mengajarkan kepada orang muda bahwa ketika melayari samudera hidup haruslah dengan semangat dan kerja keras yang tidak biasa. Bagi Ngatemi, kasih sayangnya kepada keluarga adalah alasan utama yang membuat dirinya mampu bertahan sampai hari ini. [han]

 

 

Leave a comment